Search This Blog

Wednesday, September 28, 2011

Anggota Legislatif Israel Desak Netanyahu Aneksesi Seluruh Tepi Barat

Selasa, 27/09/2011 22:12 WIB
Anggota legislatif Israel dari kelompok sayap kiri menyerahkan sebuah surat pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Isi surat itu menyatakan bahwa Israel harus melakukan tindakan balasan atas langkah Palestina meminta pengakuan sebagai anggota penuh PBB yang secara tidak langsung merupakan pengakuan terhadap berdirinya negara Palestina yang merdeka.
Kelompok sayap kiri menganggap tindakan itu sebagai tindakan sepihak dan mereka mendesak rezim Netanyahu untuk menganeksasi secara penuh seluruh wilayah Tepi Barat dimana terdapat banyak pemukiman Yahudi, sebagai bagian dari wilayah "negara" Israel. Aneksasi itu sebagai tindakan balasan Israel terhadap langkah Palestina di PBB.
Kelompok sayap kiri menyerukan hal tersebut, bersamaan dengan keputusan pemerintahan kota Yerusalem yang berada di bawah kendali Israel, untuk mengesahkan pembangunan 1.100 pemukiman baru di wilayah Palestina, di Gilo, dekat Bethlehem.
Pemerintahan kota Yerusalem sudah memberikan persetujuan awal dan menyerahkannya pada lembaga Jewish National Fund yang menguasai hampir 90 persen tanah di Israel. Setelah persetujuan final diberikan, maka pembangunan pemukiman baru Yahudi di Gilo segera dilaksanakan.
Di Israel sendiri, sedang marak aksi protes karena harga rumah yang makin mahal. Namun rezim zionis tetap membangun pemukiman-pemukiman baru di wilayah Palestina di Tepi Barat, meski tindakan itu melanggar hukum internasional dan kesepakatan di masa lalu antara Israel dan Palestina.
Menteri Dalam Negeri Israel Eli Yishai menyerukan anak-anak muda Israel untuk pindah ke pemukiman-pemukiman yang baru dibangun. Yishai bahkan membuat kebijakan untuk mengalokasikan 20 persen pemukiman yang baru dibangun untuk pasangan-pasangan muda Israel.
Anggota legislatif Israel dari kelompok sayap kiri, dalam suratnya pada Netanyahu menyatakan, rezim Israel secara resmi sudah menganeksasi lebih dari setengah wilayah Tepi Barat yang berada di bawah pendudukan Israel sejak tahun 1967. Mereka merekomendasikan Netanyahu, untuk mengambil sisa wilayah pendudukan secara penuh untuk dimasukkan ke dalam wilayah Israel, bukan wilayah Palestina.
Jika aneksasi itu benar-benar dilakukan, maka wilayah Palestina di Tepi Barat tinggal 13 persen saja dan terpecah menjadi wilayah-wilayah yang terpisah.
Kelompok sayap kiri di dewan legislatif, yang kebanyakan berasal dari Partai Kadima, juga mendesak Netanyahu agar menghentikan bantuan finansial pada Otorita Palestina yang berasal dari negara-negara donor. Mereka juga meminta rezim Netanyahu untuk membatalkan pemberian kartu "VIP" pada para pejabat Palestina. Selama ini, pejabat Palestina yang memiliki kartu tersebut, lebih mudah untuk melewati pos-pos pemeriksaan Israel di Tepi Barat. (aisyah/im)
 

Turki Berhasil Lacak Pelaku Serangan ke Mavi Marmara Lewat Jejaring Sosial


Senin, 26/09/2011 17:33 WIB
Intelijen Turki berhasil mengumpulkan nama 174 orang Israel yang secara langsung atau tidak langsung dianggap terlibat dalam insiden serangan ke kapal Mavi Marmara pada akhir Mei 2010. Intelijen Turki mengumpulkan nama-nama itu dengan cara melacaknya di situs jejaring sosial.
Harian Sabah melaporkan, agen-agen intelijen Turki sudah menyerahkan daftar nama 174 orang Israel tersebut--kebanyakan adalah tentara Israel--ke kejaksaan negara Turki. Dari ratusan nama itu, nama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, berada di urutan paling atas sebagai orang yang dianggpa paling bertanggung jawab atas insiden penyerbuan ke kapal Mavi Marmara.
Selain Netanyahu, Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman juga masuk dalam urutan teratas daftar nama tersebut. "Hampir semua tentara Israel yang membunuh sembilan aktivis Turki dan melukai 30 aktivis internasional lainnya, sudah teridentifikasi jati dirinya," demikian surat kabar Sabah.
Kapal Mavi Marmara adalah salah satu kapal rombongan "Armada Kebebasan" yang membawa bantun kemanusiaan untuk warga Gaza. Pasukan zionis berusaha menggagalkan pelayaran itu dengan menyerbu kapal dan menyerang ratusan aktivis internasional yang berada di dalamnya, saat kapal Mavi Marmara itu masih berada di perairan internasional.
Serangan tersebut menyebabkan sembilan aktivis Turki gugur syahid dan puluhan orang lainnya luka-luka, dan memicu ketegangan hubungan diplomatik Israel-Turki. Israel menolak tuntutan pemerintah Turki agar minta amaaf atas peristiwa tersebut. Rezim zionis juga menolak memenuhi permintaan Kementerian Kehakiman Turki untuk memberi tahu nama-anam orang yang terlibat dalam operasi penyerbuan itu.
Agen-agen intelijen Turki tak kehilangan akal, mereka melacak lewat situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, orang-orang Israel yang dianggap bertanggung jawab atas insiden serangan ke kapal Mavi Marmara. Tim pencari fakta Turki menyelidiki nama-nama pasukan Komando Shayetet 13, unit angkatan laut Israel yang menyandera kapal Mavi Marmara, lalu mencocokannya dengan nama dan foto yang ada di jejaring sosial Facebook dan Twitter.
Agen-agen intelijen Turki juga menyelidiki korespondensi antara tentara Israel yang diyakini ikut serta dalam operasi penyerbuan ke Mavi Marmara. Nama-nama tentara itu diberikan oleh organisasi IHH di Turki--yang mengkordinir pelayaran Mavi Marmara ke Gaza--yang juga melakukan penyelidikan atas insiden itu. (aisyah/Ynet)

Pemukim Yahudi Serukan Bunuh Semua Orang Arab dan Orang Palestina


Senin, 26/09/2011 14:47 WIB
Puluhan pemukim Yahudi bersenjata menyerukan pembunuhan terhadap semua orang Arab dan Palestina. Seruan itu disampaikan lewat poster-poster yang dipasang di jalan-jalan utama yang menuju ke pemukiman Yahudi di selatan Tepi Barat.
Poster-poster rasis itu juga mereka tempel di sepanjang jalan Yerusalem-Hebron dan di seluruh pemukiman Yahudi mulai dari selatan Bethlehem sampai ke bagian utara Hebron. Selain menempelkan poster, para pemukim Yahudi itu juga menyematkan bendera-bendera zionis Israel.
Beberapa poster antara lain bertuliskan, "Kami akan membantai semua orang Arab", "Ini adalah tanah bapak dan nenek moyang kami", serta tulisan-tulisan yang bernuansa rasis terhadap warga Arab.
Di Bethlemen, para pemukim Yahudi sengaja membuka kemah di tanah pertanian dan kebun-kebun milik warga Palestina dan melarang pemilik pertanian dan kebun itu masuk ke tanah milik mereka sendiri.
Di Hebron, para pemukim Yahudi memasang bendera zionis dan menyebarkan poster rasis yang isinya seruang untuk membunuh semua orang Palestina dan ajakan untuk mengusir orang-orang Palestina.
Dua Anak Palestina Diculik
Sementara itu, di Yeruslaem, tentara-tentara zionis kembali menculik anak-anak Palestina. Dua anak Palestina yang diculik itu bernama Wajd Abu Hlayy, 8 dan Omran Mansour, 10 berasal dari pemukiman Al-Bustan di Yerusalem Timur.
Setelah penculikan dua anak Palestina itu, pasukan zionis menyerbu masuk ke sejumlah rumah warga Palestina, menggeledahnya, lalu menggunakannya dengan paksa sebagai pos-pos tentara dan menara pengawasan sehingga bentrokan antara pasukan zionis dan warga Palestina pun tak terhindarkan.
Aktivis dari Komite Popular untuk Perlawanan di Silwan Abdul Karim Abu Sneima mendesak semua institusi nasional dan komite pupular di Palestina melakukan protes di depan gedung Pengadilan Sentral Israel di Yerusalem atas tindak tanduk tentara zionis dan keputusan pemerintahan kota Yerusalem.
Pemerintah kota Yerusalem yang dikendalikan Israel ingin menghancurkan semua rumah di seluruh pemukiman Palestina, sebagai persiapan untuk membangun pemukiman yang hanya boleh ditempati oleh pemukim Yahudi. (aisyah/im)
http://knrp.or.id/berita/aktual/pemukim-yahudi-serukan-bunuh-semua-orang-arab-dan-orang-palestina.htm

THE SETTLERS ANSWER THE CALL FOR PALESTINIAN STATEHOOD

September 26, 2011 at 08:28


‘Better dead than free’ …
*

Settlers Hang Posters Calling For Killing Arabs, Palestinians

 by Saed Bannoura
*
Dozens of armed Israeli settlers hung Israeli flags and posters on main and bypass roads close to Jewish settlements in the southern part of the West Bank, calling for slaughtering Arabs and Palestinians.
*

File
File
*
Racist posters were also placed along the Jerusalem-Hebron road, and around all settlements extending from the southern part of Bethlehem district to the northern part of Hebron.
Some of the posters read “We Will Slaughter All Arabs”, “This is the land of our fathers and forefathers”, and dozens of similar racist posters.
The settlers also camped in Palestinian farmlands and orchards south of Bethlehem, and preventing the residents from reaching their own lands.
Settlers living in the city of Hebron also hung Israeli flags and racist posters threatening to kill the Palestinians and calling for their expulsion.

Written FOR
*
Meanwhile, Palestinians are REFUSING TO DIE IN SILENCE …
*
Yesterday in Nabi Saleh, a new campaign was launched ‘Refusing to Die in Silence’, that documents and confronts colonist “settler” attacks on unarmed citizens in the West Bank. The project aims to warn the colonists and make them feel pressured by the presence of media crews ready 24/7 to document the attacks.
*


Sunday, September 25, 2011

Palestinian Christians support independent state


22/09 14:56 CET


The main Christian denominations in East Jerusalem, the West Bank and Gaza have issued a joint statement supporting the establishment of a Palestinian state with Jerusalem as its capital.
Around 57 000 Christians live in the territories concerned.
The Greek Orthodox Archbishop of Sebastia, Theodosios Atallah Hanna, told euronews the Palestinian people deserve a state, and United Nations recognition.
“We are part of these people and we support this. We work side by side with all the sectors of the Palestinian people, Muslims and Christians, for our freedom and our independence, and to establish our independent Palestinian state, and its capital Jerusalem.
“We hope that the United States and Europe and all those who are sympathetic to the Palestinian cause, will support this just demand.”
Copyright © 2011 euronews