Search This Blog

Wednesday, February 9, 2011

Korban Fosfor Berikan Tamparan Bagi Israel

GAZA (Berita SuaraMedia) - Tanggal 29 Maret, tepat sepuluh minggu setelah memberikan kesaksian kepada BTselem, Ghada Abu Halima menghembuskan nafasnya yang terakhir di sebuah Rumah Sakit Mesir, karena parahnya luka yang ia derita saat terkena bom fosfor putih zionis Israel. Berikut kutipan kesaksian almarhumah kepada BTselem:
"Hingga minggu lalu, saya masih tinggal bersama Muhammad, suami saya, dan dua orang putri kami Farah, 3, dan Aya yang masih berusia 6 bulan di daerah a-Sifa di Beit Lahiya. Kami tinggal seatap dengan kedua orang tua Muhammad, Sadallah Abu Halima, 44, dan Sabah Abu Halima, 44, ditambah dengan para saudara Muhammad: Omar, 18, Yusef, 16, Abd a-Rahim, 13, Zeid, 11, Hamzah, 10, Ali, 4, dan si mungil Shahd, 1."
"Rumah yang kami tinggali berlantai dua. Di lantai pertama, terdapat ruang penyimpanan seluas 250 meter persegi, dan kami tinggal di lantai dua. Kami adalah keluarga petani, dan kami memiliki sebuah lahan disamping rumah."
"Hari Sabtu malam, tanggal 3 Januari, jet-jet tempur Israel menyebarkan selebaran yang isinya meminta seluruh warga untuk meninggalkan kediaman masing-masing. Dalam penyerbuan sebelumnya, mereka melakukan hal yang sama (menyebar pamflet), dan kami tidak meninggalkan rumah, jadi kali ini kamipun memutuskan untuk tidak meninggalkan rumah."
"Keesokan harinya (4 Januari), sekitar pukul empat sore, ketika semua anggota keluarga ada di rumah, serdadu zionis mulai membombardir sekitar kediaman kami. Beberapa saat kemudian, sebuah bom jatuh tepat di rumah kami. Api membumbung tinggi di dalam rumah dan beberapa orang anggota keluarga langsung terpanggang dan menemui ajal: Ayah mertua, bayi perempuan mungil, Shahd, serta tiga ipar laki-laki saya, Abd a-Rahim, Zeid, dan Hamzah."
"Sementara itu, ibu mertua, Yusef, Omar, dan Ali menderita luka bakar parah. Api terus menjalar ke seluruh penjuru rumah. Saya mendekap putri saya, Farah, erat-erat, kami berdua pun tak luput dari kobaran api ledakan bom, kami terbakar hidup-hidup, sebagian pakaian saya terbakar, demikian halnya dengan kulit saya dan juga Farah."
"Untungnya, atas perlindungan Allah, putri kedua saya, Aya, sama sekali tidak terluka. Saya langsung merobek baju saya dan berteriak karena rasa sakit yang tidak tertahankan. Saya bertelanjang dihadapan seluruh penghuni rumah. Sekujur tubuh saya terbakar hebat, dan rasa sakitnya amat sangat terasa. Saya bahkan dapat mencium aroma daging saya sendiri yang terbakar."
"Kondisi saya sangat parah. Saya kemudian mencari sesuatu untuk menutupi aurat saya. Ipar laki-laki saya melepaskan celananya agar dapat saya kenakan, bagian atas tubuh saya tetap terbuka, hingga suami saya datang menghampiri dan menutupinya dengan jaket."
"Kemudian, suami saya lari ke jalan untuk meminta pertolongan dari warga sekitar untuk membantu mengevakuasi jasad keluarga kami yang tewas, ia juga mencoba mencari  ambulans yang mungkin lewat. Namun hasilnya nihil, tak satupun ambulans atau mobil pemadam kebakaran yang berlalu. Untungnya, dua orang sepupu suami saya -yang kebetulan tinggal dekat rumah kami- Matar dan Muhamad Hikmat Abu Halima, datang menolong. Saya dipapah suami, dan Nabilah, bibi suami saya, menggendong Farah. Seorang bibi lainnya, yang turut menolong, menggendong Aya."
"Muhammad, Farah, Nabilah dan ketiga puteranya, Ali, Omar, Matar, dan saya, menaiki sebuah kereta yang ditarik oleh sebuah traktor. Muhammad Hahmat yang mengemudi, menuju rumah sakit Kamal Adwan. Kami membawa serta jasad bayi Shahd. Sementara jasad yang lainnya terpaksa kami tinggalkan."
"Ditengah jalan, kami melihat sejumlah serdadu zionis berjarak 300 meter dari al-Atatrah Square. Muhammad menghentikan laju traktor, ketika tiba-tiba, para serdaru tersebut melepaskan tembakan kearah kami. Matar dan Muhammad Hikmat tewas seketika. Sementara Ali mengalami luka-luka dan sempat melarikan diri bersama Nabilah dan Omar."
"Para serdadu tersebut kemudian meminta suami saya membuka baju. Lalu suami saya kembali mengenakan bajunya dan para serdadu Israel menyuruh kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Ketiga jasad saudara kami tinggalkan di kereta. Saya, suami, dan Farah berjalan menuju alun-alun dimana kemudian ada sebuah mobil yang lewat, kami lalu menumpang mobil tersebut. Sang pengemudi mengantar kami ke RS al-Shifaa. Ketika kami tiba di rumah sakit, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore."
"Saya masih dirawat di rumah sakit. Sekujur tubuh saya menderita luka bakar, termasuk wajah saya. Sementara Farah menderita luka bakar tingkat tiga."
"Kami kemudian dirujuk ke Mesir untuk mendapatkan perawatan disana, namun kami ditembaki ketika para petugas medis mencoba mengantar kami ke Rafah dengan ambulans. Wajah sang pengemudi ambulans terluka, dia lalu memutuskan untuk berputar kembali ke rumah sakit. Hingga saat ini, kami masih menunggu ijin untuk bisa pergi ke Mesir."
Ghada Riab Abu Halima, 21, adalah seorang ibu dua anak, penduduk Beit Lahiya, jalur Gaza. Kesaksian ini diserahkan kepada Muhammad Sabah di RS al-Shifaa pada tanggal 9 Januari 2009. (dn) http://www.suaramedia.com

Bahkan Orang Yahudi Pun Menentang Israel

Oleh: Haris Priyatna, penulis buku Kebiadaban Zionis Israel:
Kesaksian Para Tokoh Yahudi (Mizan, 2009)

Ketika Israel membombardir Gaza awal tahun ini, sekelompok Yahudi anti-Zionis berdemonstrasi di depan Konsulat Israel New York memprotes kebrutalan itu. Demonstrasi itu mereka namakan “Protes Darurat untuk Menghentikan Pembantaian di Gaza.”

Mungkin kita agak heran jika mendengar ada orang Yahudi yang menentang Israel. Kebanyakan dari kita tentu mengira setiap Yahudi mestilah Zionis pendukung Israel. Ternyata tidak, dalam penelitian saya, banyak tokoh Yahudi yang menentang Zionis-Israel. Bahkan kekritisan orang Yahudi terhadap kebijakan Israel dan Zionisme memiliki sejarah yang cukup panjang.

Sebelum Perang Dunia II, mayoritas Yahudi adalah non-Zionis, dan sejumlah besar secara terbuka menentang Zionisme. Sebagaimana yang ditulis oleh Nahum Goldmann, mantan presiden World Jewish Congress, di dalam The Jewish Paradox, “Ketika Zionisme pertama kali muncul di panggung dunia, sebagian besar Yahudi menentangnya dan mencercanya. Herzl hanya didukung oleh minoritas.” Barulah setelah horor Holokaus disadari, sejumlah besar komunitas Yahudi mendukung Zionisme.

Mari kita kenali beberapa tokoh Yahudi yang anti Zionis-Israel. Albert Einstein pernah menyatakan penolakan atas penciptaan sebuah negara Yahudi kepada Anglo-American Committee of Inquiry, yang sedang mempelajari masalah Palestina pada Januari 1946. Einstein juga kelak menolak tawaran jabatan presiden negara Israel. Pada 1950, Einstein mempublikasikan pernyataan berikut ini: “Saya lebih cenderung mencari kesepakatan dengan pihak Arab berdasarkan hidup bersama dalam perdamaian daripada penciptaan sebuah negara Yahudi. Pengetahuan saya akan sifat esensial agama Yahudi menentang gagasan sebuah negara Yahudi dengan perbatasan, tentara, dan kekuasaan betapapun sederhananya.”

Erich Fromm, cendekiawan terkenal itu, juga kritis terhadap Zionisme. Dia menyatakan: “Klaim Yahudi terhadap Tanah Israel tidak dapat menjadi klaim politik yang realistis. Jika semua bangsa tiba-tiba mengklaim wilayah di mana nenek moyang mereka hidup dua ribu tahun yang lalu, dunia ini akan menjadi kacau.”

Israel heboh ketika empat anak pelopor politik Zionis sayap kanan berubah menentang warisan politik para ayah mereka. Yang terkenal adalah Yigal Arens, putra mantan menteri pertahanan Likud, Moshe Arens. Yigal Arens adalah penentang teguh Pendudukan Israel. Dana Olmert, putri PM Ehud Olmert menghadiri demonstrasi anti-perang selama perang Lebanon yang lalu.

Selama beberapa tahun belakangan, para aktivis perdamaian Yahudi dan Palestina berdemonstrasi setiap Jumat di desa Bilin, di tepi Tembok Pemisah. Salah satu pemrotes Israel yang rutin hadir adalah cucu Menachem Begin: Aminadav Begin. Bayangkanlah bagaimana orang Israel menanggapi fenomena itu, padahal Menachem Begin adalah dewa Zionisme sayap-kanan.

Yang keempat, Avrum Burg menulis buku Defeating Hitler, yang mengecam keras Israel dan seluruh kegiatan Zionis. Dia telah meninggalkan warisan keluarga yang berkomitmen kepada Zionis. Ayahnya, Yosef Burg, berpuluh tahun mengabdi sebagai ketua National Religious Party Israel.

Lalu ada pula para wartawan Yahudi yang dalam tulisan-tulisannya kerap menentang Israel. Wartawati surat kabar Ha'aretz Amira Hass sering bersimpati pada sudut pandang rakyat Palestina dan kritis terhadap kebijakan Israel atas warga Palestina. Dia tinggal di Gaza dan telah menulis buku tentang penderitaan Gaza yang berjudul Drinking the Sea at Gaza: Days and Nights in a Land under Siege. Wartawan lainnya adalah Gideon Levy. Dia rutin pergi ke Wilayah Pendudukan untuk meliput penderitaan rakyat Palestina.

Dari kalangan akademisi ada Ilan PappĂ© yang kini menjadi profesor sejarah di University of Exeter, Inggris. Dia sebelumnya adalah dosen senior ilmu politik di Haifa University. Dia terusir dari Israel karena pandangannya yang memihak Palestina. Dia pernah mengatakan: “Saya mendukung Hamas dalam perlawanannya terhadap pendudukan Israel. Negara apa pun yang melakukan pendudukan tak bisa disebut negara demokratis.” Ilan PappĂ© pernah menulis artikel yang berjudul "Genocide in Gaza, ethnic cleansing in the West Bank" yang diterbitkan di Tehran Times. Tulisan-tulisannya di The Electronic Intifada juga bernada sama.

Lantas siapa yang tak kenal Noam Chomsky? Dia kerap dicap anti-Semit karena merupakan kritikus Yahudi yang paling menyerang kebijakan Israel. Ada pula akademisi Yahudi yang sempat lama bermukim di Gaza: Dr. Sara Roy, ilmuwan dari Harvard University yang melakukan riset di Jalur Gaza dan Tepi Barat sejak 1985 dalam bidang pembangunan ekonomi dan sosial. Walaupun kajiannya tentang ekonomi, Roy sangat tajam mengkritik Israel dalam tulisan-tulisannya.

Dalam bukunya The Gaza Strip: The Political Economy of De-Development, Roy berpendapat bahwa kerusakan ekonomi Palestina di bawah pendudukan Israel lebih parah ketimbang yang dialami wilayah-wilayah jajahan lainnya. Bagi Roy, tujuan dasar Israel bukanlah untuk mengeksploitasi, melainkan mencabut hak milik bangsa Palestina. “Mereka merampok sumber-sumber daya ekonomi terpenting,” ungkap Roy.

Mungkin yang lebih mengherankan adalah banyak pula para rabbi yang menjadi penentang keras Zionis-Israel. Di antaranya adalah Rabbi Moshe Aryeh Friedman dari Austria. Dia terkenal karena partisipasinya dalam International Conference to Review the Global Vision of the Holocaust pada 2006 di Teheran. Di forum itu, Friedman bahkan dicium oleh Ahmadinejad.

Jika orang Muslim menentang Israel, tentu kita memandang sudah sewajarnya. Namun, jika ternyata cukup banyak orang Yahudi yang menentang Israel, tentu dunia akan sadar bahwa kekejian Israel terhadap Palestina memang melampaui batas.[]


http://harispriyatna.multiply.com/journal/item/34

"Jus Uranium", Minuman Wajib Pekerja Nuklir Israel

TEL AVIV (Berita SuaraMedia) - Pekerja pada fasilitas reaktor nuklir di Dimona dipaksa untuk menjadi sukarelawan untuk meminum uranium pada tahun 1998 sebagai bagian dari sebuah percobaan, menurut sebuah perkara hukum yang dikirimkan empat bulan lalu di Beer Sheva Labor Tribunal oleh seorang mantan pekerja dalam fasilitas tersebut.
Percobaan tersebut dilaksanakan tanpa ada ijin tertulis dari pekerja, atau memperingatkan mereka akan resiko atapun efek samping, seperti yang dibutuhkan oleh Declaration of Helsinki mengenai percobaan manusia.
The Israel Atomic Energy Commission atau Komisi EnergiNuklir Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa fasilitas Nuklir Dimona "menempatkan keamanan dan kesehatan pekerjanya dalam prioritas tertinggi."
Pernyataan dari Komisi tersebut menambahkan bahwa jumlah dari uranium di yang diminum oleh para staf dalam eksperimen tersebut sebanyak (100 microgram) kurang dari jumlah yang diminum dari penduduk Beer Sheva minum dari keran mereka.
Pekerja yang mengirimkan tuntutan tersebut, Julius malick, baru-baru ini pensiun setelah ia mengatakan bahwa ia terancam oleh mantan direktur dari fasilitas tersebut, Yitzhak Gurevich, dan direktur dari HRD, Gary Amal, bahwa jika ia tidak pensiun maka ia akan dipecat.
Malick menuntut fasilitas Dimona atas kompensasi sebesar 1.8 juta NIS. Menurut tuntutan tersebut, Malick "diminta oleh para atasannya untuk mengambil bagian dari sebuah eksperimen pada lima pekerja. Dalam sebuah rangka kerja percobaan, Malick dan pekerja lainnya meminum uranium. Eksperimen tersebut diadakan tanpa pengawasan medis dan tanpa penjelasan mengenai resiko kesehatan yang diberikan kepada partisipan. Malick, yang ketakutan akan kelangsungan hidupnya dan masa depannya di departemen tersebut, setuju untuk berpartisipasi."
Malick yang bekerja di reaktor Dimona selama 15 tahun sebelum pensiun pada tahun 2008, menerima gelar sarjana dan masternya dalam Kimia di Bar-Ilan University. Ia memiliki gelas lain, dalam mesin industri dan manajemen, dari Ben-Gurion University of the Negev di Be'er Sheva.
Tuntutan hukum tersebut juga mencatat bahwa ketika para pekerja tidak menerima hasil dari percobaan tersebut, sebuah artikel tentang itu muncul dalam jurnal sains Health Physics. Menurut tuntutan tersebut, artikel yang ditulis oleh beberapa periset yang dipimpin oleh Drs. Zeev Karpas dan Avi Lorber, direktur dari laboratorium analisis kimia Fasilitas Dimona, termasuk nama subyek tanpa izin mereka.
Pekerja-pekerja tersebut diberikan anggur atau jus anggur yang berisi uranium untuk diminum dan kemudian diminta untuk sampel urin mereka, yang akan dianalisa untuk menentukan bagaimana uranium dikeluarkan dari tubuh melalui urin. Periset mengatakan itu seharusnya tidak berbahaya, ujar Malick kepada pengacaranya, Alexander Spinrad. "Lorber dan Karpas mengatakan bahwa bahkan mereka mengambil bagian dalam eksperimen tersebut, meskipun sampai hari ini tidak jelas bagi saya apakah mereka sebenarnya melakukakannya. Setelah itu rekan-rekan kerja saya yang saya ceritakan bahwa saya meminumnya berkata bahwa saya bodoh dan mereka tidak akan setuju untuk melakukannya dalam keadaan apapun," ujar Malick kepada pengacaranya.
Malick, yang seorang ahli kimia, juga mengatakan bahwa beberapa waktu setelah eksperimen tersebut, Lorber mengatakan padanya bahwa itu adalah proyek pribadinya bersama Karpas. "Hal tersebut tentu saja sangat konyol, karena dalam artikel tersebut dinyatakan ada rekan lain, yang namanya muncul di bawah nama mereka dan ditulis sebagai pekerja dari fasilitas Dimona," ujar Malick.
Malick juga mengatakan bahwa ia pernah mengeluh bahwa tidak ada catatan yang disimpan dan Karpas "bercanda dengan saya dan mengatakan saya menyebabkan badai dalam ceret." Tuntutan tersebut juga menyatakan bahwa atasannya tidak pernah mencatat partisipasinya dalam eksperimen tersebut dalam catatan medisnya.
Tuntutan tersebut menggambarkan sebuah kecelakaan kerja pada Agustus 1998, di mana Malick mengalami luka bakar di tangannya sebagai hasil dari kontak dengan sejumlah kecil uranium dan materi lainnya. Mallick mengatakan bahwa ia menerima perlakuan yang buruk dan ia secara tidak sengaja menemukan material yang telah mengenainya tidak teridentifikasi dalam laporan kesehatan. Malick mengatakan kepada pengacaranya bahwa ia percaya jenis perlakuan ini sistemati, dis dan tuntutan ini telah menunjukannya.
Tuntutan ini juga menyatakan bahwa Malick dalam sebuah memo internal kepada departemen di reaktor Dimona, memperingatkan bahwa para pekerja yang telah terkena materi radioaktif dalam kecelakaan tidak menerima pengobatan yang pantas. Dalam posisinya di reaktor Dimona adalah di laboratorium analisis kimia, dimana pekerjaan, diantara hal lain adalah untuk mengevaluasi kemungkinan kerusakan kepada para pekerja yang terekspos kepada materi berbahaya.
Di tahun-tahun awal, atasan-atasan Malick memuji pekerjaannya. Namun, Malick mengklaim bahwa ia kemudian dilabeli sebagai seorang pembuat keonaran dan ketika ia mencoba untuk meningkatkan level keamanan dan layanan kesehatan pada pabrik tersebut. Ia kemudian ditransfer ke posisi lain dimana kemampuannya tidak dapat digunakan untuk kebaikan, tulis tuntutan tersebut, dan akhirnya, ia mengundurkan diri di bawah ancaman pemecatan. Setelah ia mengundurkan diri, Malick berkata ia dipaksa untuk menandatangani sebuah persetujuan yang mendiskriminasinya dari para pensiuner dari fasilitas tersebut.
Malick menolak untuk diwawancarai untuk artikel ini karena memikirkan pelecehan oleh mantan atasannya melalui petugas keamanan dan kepala departemen keamanan di Kementrian Pertahanan, yang bertanggung jawab untuk keamanan dari informasi dan reaktor. Namun, ia mengkonfirmasikan kepada Haaretz bahwa ia telah mengirimkan tuntutan hukum. (iw/hrz) dikutip olehwww.suaramedia.com

Surat Terbuka Suzanne Weiss, Korban Holocaust yang Membela Palestina

REPUBLIKA.CO.ID, TORONTO--Di Kanada, Holocaust Memorial Day telah ditetapkan oleh Heritage Kanada dan jatuh setiap tanggal 11 April. Salah satu korban Holocaust yang selamat, Suzanne Weiss, selalu memperingatinya dengan setengah hati: di satu sisi ia mengenang seluruh anggota keluarganya yang meregang nyawa di kamp konsentrasi Nazi itu -- karena mereka berdarah Yahudi -- di sisi lain ia prihatin terhadap nasib bangsa Palestina yang tak lebih buruk dari Yahudi saat itu.

Dalam banyak kesempatan, ia menyuarakan aksi protesnya atas kekejian Israel di Palestina. Ia yang kini memilih hidup di Kanada ini aktif memperjuangkan hak-hak bangsa Palestina yang menyuarakan penghentian blokade di Gaza dan segala bentuk kekerasan di wilayah ini.

Kepada media Rabble yang berbasis di Kanada, aktivis Not In Our Name: Jewish Voices Against Zionism and of the Coalition Against Israeli Apartheid itu menulis surat terbuka. Berikut ini cuplikannya:

Benar, Holocaust yang dilancarkan Hitler unik. Orang Yahudi  menjadi korban pembersihan etnis dan apartheid. Di kota keluarga saya di Polandia, PiotrkĂłw, 99 persen orang Yahudi tewas.

Namun bagi saya, tindakan pemerintah Israel terhadap rakyat Palestina membangkitkan kenangan mengerikan dari pengalaman keluarga saya di bawah Hitlerism: dinding tidak manusiawi, tempat pemeriksaan, penghinaan harian, pembunuhan, penyakit yang sengaja disebarkan. Tidak ada yang melarikan diri dari kenyataan bahwa Israel telah menduduki seluruh negara Palestina, dan mengambil sebagian besar lahan, sedangkan warga Palestina telah diusir, tidak berdinding, dan kehilangan hak asasi manusia dan martabat manusia.

Kanada baru-baru ini menyerang gerakan melawan apartheid Israel, mengatakan bahwa itu adalah gerakan anti-Yahudi. Ini aneh. Ketika Nelson Mandela yang menentang apartheid di Afrika Selatan, apakah ini anti-kulit putih? Tidak, Mandela mengusulkan bahwa semua Afrika Selatan, termasuk kulit putih, bergabung atas dasar demokrasi dan kesetaraan dalam membebaskan negeri ini dari penindasan rasial. Dan itulah usulan bahwa gerakan melawan apartheid Israel membuat semua penduduk Israel / Palestina.

Kami diberitahu bahwa orang-orang Yahudi Israel tidak akan pernah menerima sebuah solusi yang demokratis. Mengapa? Apakah ada sesuatu yang salah dengan gen mereka atau budaya mereka? Gagasan yang sangat tidak masuk akal - pada kenyataannya, logika adalah anti-Yahudi. Oposisi terhadap apartheid Israel didasarkan pada harapan - harapan yang didasarkan pada kemanusiaan umum penduduk wilayah Yahudi dan Palestina.

Keluarga saya dan komunitas mereka di PiotrkĂłw, Polandia, mengalami nasib yang keras di bawah Hitler. Nazi memaksa 25.000 orang Yahudi di kota itu ke dalam ghetto pertama di Polandia. Gerakan perlawanan di ghetto tidak dapat berhubungan dengan perlawanan luar. Hanya beberapa ratus orang Yahudi PiotrkĂłw yang lolos dari kematian.

Tetapi ibu dan ayah saya saat itu tinggal di Paris. Mereka aktif dalam Union des Juifs, sebuah organisasi perlawanan Yahudi terkait erat dengan partai-partai sosialis dan kelompok anti-Nazi lain. Ketika Nazi mulai mengumpulkan orang-orang Yahudi di Perancis, Union des Juifs menyembunyikan ribuan anak-anak Yahudi di antara anti-Nazi di seluruh negeri. Orangtuaku tewas. Tapi sebuah keluarga petani berani di Auvergne, dengan risiko besar, mengambil dan menyembunyikan saya. Dan itulah mengapa saya di sini hari ini.

Ada pelajaran di sini untuk kita hari ini. Hitler tampak sangat kuat pada saat itu. Tapi ia tidak bisa menghancurkan perlawanan, sebuah aliansi luas orang yang memeluk banyak agama dan banyak sudut pandang politik untuk melawannya. Kita perlu semacam aliansi dalam melawan penindasan saat ini - termasuk penindasan rakyat Palestina.

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mendefinisikan apartheid sebagai "tindakan tidak manusiawi yang dilakukan untuk tujuan membangun dan mempertahankan dominasi oleh satu kelompok rasial orang atas kelompok ras lain orang dan sistematis menindas mereka."

Konsep apartheid ditemukan di Amerika Utara ketika masyarakat adat yang terbatas untuk mendapatkan akses pada banyak hal terpencil di tanah yang dicuri dari mereka. Dan inilah yang saat sekarang kita temukan atas bangsa Palestina.

Pada tanggal 9 Juli 2005, 170 organisasi masyarakat sipil Palestina menyerukan boikot, divestasi dan sanksi (divestment and sanctions/BDS) terhadap lembaga-lembaga apartheid Israel. Gerakan BDS membantu untuk mengakhiri kejahatan apartheid Afrika Selatan. Sejak tahun 2005, gerakan BDS terhadap gerakan apartheid Israel telah memenangkan dukungan luas di seluruh dunia.

Nelson Mandela, pemimpin besar BDS terhadap Apartheid Afrika Selatan, mengatakan bahwa keadilan bagi rakyat Palestina adalah "masalah moral terbesar zaman ini."

Saya baru-baru ini menemukan bahwa nama saya termasuk dalam daftar website "7.000 orang Yahudi yang membenci diri sendiri." Mengapa pendukung Yahudi di Palestina diberi label sebagai  "membenci diri sendiri"? Karena orang-orang yang membuat tuduhan ini telah mendefinisikan ulang Yudaisme dalam hal kebijakan ini dan karakter dari negara Israel. Mereka melihat Yudaisme tidak lebih dari alasan untuk menindas Palestina. Mereka semua menghina agama Yahudi dan budayanya!

Adapun 7.000 pembenci diri, para kritikus perlu menambahkan beberapa angka nol terhadap total angka itu. Dalam pengalaman saya, mendukung Palestina lebih kuat pada masyarakat Yahudi dari dalam masyarakat secara keseluruhan. Dan orang-orang Yahudi Palestina bekerja bersama saudara-saudaranya sebagai komponen yang kuat dari gerakan solidaritas Palestina.

Kesadaran Holocaust adalah waktu yang tepat untuk meninjau sejarah kita sendiri, dan memunculkan rasa kemanusiaan kita. Kami, sebagai pendukung Yahudi dari Palestina, berdiri pada tradisi terbaik dari Yudaisme. Kami menolak penindasan atas Palestina atas nama kami.

Suzanne Weiss, korban Holocaust
Red: Siwi Tri Puji B
Sumber: rabble.ca

Over 100 Palestinian minors reported abuse in IDF, police custody in 2009

69 minors complained of being beaten, four minors reported being sexually assaulted, and 12 said they were threatened with sexual assault.

By Amira Hass

Most Palestinian children arrested by the Israel Defense Forces and police are intimidated, abused and maltreated in custody, according to the sworn testimonies of minors who were arrested last year. This happens both before and during interrogation, and several minors have been sexually assaulted.
IDF soldiers apprehending a Palestinian boy
IDF soldiers apprehending a Palestinian boy.
Photo by: Tal Cohen
The Palestinian branch of the non-governmental organization Defense for Children International has asked the United Nations to probe complaints of sexual assaults.
The organization has collected 100 detailed depositions from minors aged 12 to 17 who were arrested last year, immediately after their release. Most of the findings were not a surprise to DCI activists, apart from verbal or physical attacks of a sexual nature committed by soldiers.
Sixty-nine minors complained of being beaten by soldiers (slaps, kicks, sometimes blows with a rifle stock or club ). Nearly all - 97 percent, including children aged 12 to 15 - were held for hours with their hands cuffed, and 92 percent were blindfolded for long periods of time. Twenty-six percent said they were forced to remain in painful positions.
For example, one child said he was bound, blindfolded and placed on the floor of a jeep or vehicle on its way to the prison facility. About half the children said the soldiers who arrested them cursed and threatened them before the interrogation, to make them confess the charges. Or the children were urged to confess with false promises of immediate release.
The children were frequently told that the soldier who beat them was also the interrogator to whom they must confess. Most of them said they were held for many hours before receiving anything to drink or eat.
The DCI says the numerous sworn testimonies attest to a fixed, repeated pattern. It says these practices violate international law and the children's rights.
In addition, causing pain and intimidation to extract a confession from a minor or make him incriminate others is defined as torture.
The relatively surprising findings in the depositions were the complaints of sexual abuse - verbal or physical. Minors usually have difficulty talking about this aspect of their arrest, and the issue came up only during the longer conversations DCI lawyers had with the children.
Four minors reported being sexually assaulted, and 12 said they were threatened with sexual assault. The threat was accompanied by physical violence. Last week, the DCI's Palestinian branch sent the UN official who monitors torture 14 complaints by Palestinian prisoners aged 13 to 16 of sexual assault during detentions from January 2009 to April 2010.
The depositions sent to the UN report direct attacks, including squeezing boys' testicles, pushing a blunt object (a club or rifle stock ) between the chair and a child's buttocks, and repeated threats of "I'll screw you if you don't confess you threw stones."
A 15-year-old arrested in September told the DCI that a soldier slapped him twice, squeezed his testicles and asked if he had thrown stones or a Molotov cocktail. The boy said he hadn't thrown either, and the soldier shouted at him that he was a liar, beat him all over his body, grabbed his testicles again and squeezed. "I won't let your balls go until you confess," he said.
The boy felt such pain that he confessed to throwing stones, he reported.
The DCI recommends that the IDF and police interrogate minors only in the presence of a lawyer of their choice and a relative, and record the interrogation on video. These accepted procedures for interrogating children would reduce the risk of extorted confessions.
Palestinian prisoners, including minors, are allowed to see their lawyers only shortly before trial, sometimes only in the courtroom itself. This prevents them from talking in detail about their treatment in custody. Minors, 60 percent of whom are charged with stone-throwing, may expect a much shorter prison sentence than their detention time until the end of the trial.
Consequently, many minors confess, even when they deny the charges, and their lawyers sign plea deals with the prosecution to shorten their incarceration.
Asked about a failure to complain to the authorities about the sexual assault of minors, DCI legal adviser Khaled Kuzmar said many parents are not prepared to do so. "Very few people have confidence in the system that abuses them," he said.
Some fear that the system or certain individuals would take revenge on them if they complain, he said.
However, the DCI is considering filing complaints along with Israeli human rights groups, if the parents agree.
The Israeli authorities arrest around 700 Palestinian minors aged 12 to 18 annually. Some 300 Palestinian minors are held in various Israeli prison facilities every month - either before or after they have been tried. Last month, 335 Palestinian minors, 32 of them aged 12 to 15, were imprisoned, mostly on suspicion of throwing stones.
The IDF Spokesman's Office dismissed "claims of deliberate deviation from procedures for arresting and interrogating minors. Minors' arrests are carried out in keeping with international law; the arrest of suspects under 16 years old in the West Bank requires a military lawyer's approval .... Minors are brought before a judge within a relatively short period."
The spokesman said complaints about violence should be raised during the trial, or in an orderly complaint to the Justice Ministry's police investigation department or the Military Police.
Military sources told Haaretz that minors' interrogation sessions are recorded, except for interrogations by the Shin Bet security service, which are exempt by law. As for a lawyer's presence during a minor's interrogation, the law does not require that even in Israel proper.
http://www.haaretz.com/print-edition/news/over-100-palestinian-minors-reported-abuse-in-idf-police-custody-in-2009-1.292679